- Jika pengamalan hal tersebut dimaksudkan untuk memperkuat diri guna menghadapi musuh-musuh yang akan menghancurkan agama dan umat Islam, maka pengamalan hal tersebut dianjurkan oleh agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran, surat al-Anfal ayat 60:
…………………..
“Dan siapkan untuk menghadapi mereka apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan ini) kamu bisa menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka, yang kamu tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Disamping itu perlu Anda ketahui bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib sanggup memainkan pedangnya yang bernama”Dzul Faqr” yang konon beratnya 80 kg, ialah karena beliau mengamalkan do’a yang sekarang terkenal dengan nama “Asma’ Kekuatan Tangan”. Demikian pula pada saat perang Badr, Rasulullah saw. Membaca do’a yang sekarang terkenal dengan Asma’ Lembu Sekilan, karena orang yang mengamalkannya dengan baik dan sungguh-sungguh, jika dia ditembak musuh dalam pertempuran, maka peluru musuh tidak dapat menembus kurang dari satu kilan (jengkal), tetapi bukan berarti jika tangannya teriris pisau tidak luka.
Adapun kitab-kitab yang menerangkannya banyak sekali, antara lain: kitab-kitab tafsir tertentu, kitab hadits Riyadus Shalihiin yang menerangkan doa-doa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Untuk membacanya, hizib-hizib yang terdapat dalam kitab Dala’ilul Khairat dan lain sebagainya. Hanya perlu kami ingatkan bahwa jangan sekali-kali mengamalkan asma’-asma itu, jika tidak mendapat ijazah dari Kiai yang dapat diandalkan.
- Yang dimaksud dengan “ayat saif” ialah ayat yang menerangkan tentang peperangan. Adapun kitab yang memuat masalah itu adalah: Kitab al-Itqan karangan Imam Nawawi. Kitab Zubdatul Itqon karangan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani. Kitab an-Nasikh wal Mansukh yang ada dipinggir (hamisy) tafsir Jalalain.
Contoh: Dalam surat al-Anfal ayat 65 Allah swt, berfirman: …………….
“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”.
Ayat tersebut di atas diturunkan pada saat iman dan mental orang-orang mukmin pengikut Nabi saw., sangat kuat. Kemudian pada saat iman dan mental orang-orang mu’min menjadi lemah, maka turunlah ayat ke-66 dari surat al-Anfal yang menasakh ayat ke-65 tersebut diatas, yaitu firman Allah swt, yang berbunyi:
“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika diantaramu ada seribu orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar”.
- Al Ilmu bila Syaikhin Fasyaikhuhu Syaithonun Karena seringkali kita menjumpai kalimat-kalimat yang pengertiannya tidak sama dengan arti yang ada dalam kamus, sehingga tanpa petunjuk dari guru, kita akan keliru dalam mengartikannya. Kita juga seringkali menjumpai ungkapan-ungkapan yang tidak dapat kita terjemahkan hanya dengan mengandalkan ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu alam seperti ungkapan yang dikemukakan oleh Abu Bakar as Shiddiq:
مَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ فِيْهِ
Umar Ibn Khattab:
مَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ
Usman Ibn Affan:
مَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ
Ali Ibn Abi Thalib:
مَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ مَعَهُ











