UMMIY

UMMIY

Ummiy dalam Bahasa Arab memiliki dua makna, yaitu : Tidak mengetahui kitab suci atau tidak bisa membaca dan menulis.

Alloh Ta’ala berfirman :

 وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ. البقرة : ٧٨

Dan dari sebagian mereka adalah orang-orang ummiy yang tidak mengetahui Al-Kitab”. (Q.S. Al-Baqoroh : 78).

Kata Ummiy berasal dari kata UMMUN yang bermakna Induk atau Ibu, lalu diberi akhiran huruf YA’ nisbat. Imam Al-Qurthubi di dalam Tafsirnya, 2/6 menjelaskan :

قوله تعالى : ” ومنهم أميون ” أي من اليهود. وقيل : من اليهود والمنافقين أميون، أي من لا يكتب ولا يقرأ، واحدهم أمي، منسوب إلى الأمة الأمية التي هي على أصل ولادة أمهاتها لم تتعلم الكتابة ولا قراءتها

Firman Alloh Ta’ala : “WA MINHUM UMMIYYUUNA” artinya adalah dari orang-orang Yahudi, dan dikatakan : Dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Munafiq adalah Ummiyyun, yaitu orang yang tidak menulis dan juga  tidak membaca. Kata tunggal (Ummiyyun) adalah Ummiy yang dinisbatkan kepada kata Al-Ummah al-Ummiyah yang merupakan dasar kelahiran induknya yang tidak mengetahui tulisan dan juga tidak mengetahui bacaan.

Di dalam hadits shohih dijelaskan :

عن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ. أخرجه البخاري (١٩١٣)، ومسلم (١٠٨٠).

Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda : “Kami adalah umat yang ummiyah yang tidak menulis dan juga tidak menghitung” (H.R. Al-Bukhari, No : 1913, dan Muslim, No : 1080).

Dan di dalam hadits ini tidak berarti bahwa semua umat Islam itu tidak bisa menulis dan juga tidak bisa hitung-hitungan, namun hadits ini hanya menjelaskan bahwa untuk menentukan awal Romadhon dan Idul Fitri adalah dengan ru’yatul hilal (penglihatan bulan sabit) dan bukan dengan ilmu hisab. Sedangkan awal perintah menunaikan kewajiban puasa di bulan Romadhon adalah pada bulan sya’ban tahun ke-dua dari hijrah.

Alloh Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيلِ. الأعراف : ١٥٧

“Orang-orang yang mengikuti rasul nabi yang ummiy yang mereka dapati (namanya) tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil”. (Q.S. Al-A’rof : 157).

Para ulama ahli tafsir telah sepakat bahwa tidak ada seorang nabi dan rasul-pun yang disifati dengan ummiy selain Nabi Muhammad SAW, oleh sebab itu di dalam ayat ini telah jelas bahwa yang dimaksud adalah Rasululloh Muhammad SAW.

Dan seluruh ulama ahli sejarah serta ahli tafsir telah sepakat bahwa sebelum masa kenabian, maka Rasululloh SAW adalah ummiy dari membaca dan menulis serta ummiy dari mengetahui kitab suci, hal ini sebagai bukti bahwa kebenaran Al-Qur’an adalah wahyu murni dari Alloh Ta’ala dan bukan rekayasa atau karangan Nabi Muhammad SAW. Karena dari sejak kecil beliau hidup dalam keadaan tidak punya ayah dan tidak punya ibu, lalu beliau diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yang punya anak sangat banyak dan hidup serba pas-pasan. Sedangkan beliau sendiri setiap hari bekerja sebagai penggembala kambing milik pamannya di pagi hari dan di sore hari juga menggembala kambing milik orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

            Dan ketika beliau bekerja sebagai pedagang yang menjual barang dagangan milik Khodijah binti Khuwailid beliau pun tetap masih belum bisa membaca dan menulis maupun mengetahui kitab suci. Hingga pada awal beliau SAW menerima wahyu pertama kali beliau pun masih belum bisa membaca dan menulis.

Rasululloh SAW cerita kepada Aisyah ra, tentang kisah pertama kali beliau menerima wahyu, lalu Aisyah meriwayatkan kisah tersebut  kepada Urwah bin Az-Zubair :

جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : إقْرَأْ، قَالَ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، قَالَ : فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : إقْرَأْ، قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : إقْرَأْ، فَقُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : { إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ إقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ }. أخرجه البخاري (٣)، ومسلم (١٦٠).

“Kebenaran telah datang kepada beliau SAW, sedangkan beliau di dalam Gua Hira’, lalu malaikat datang kepadanya seraya berkata : “Bacalah”, (beliau) menjawab : “Aku tidak bisa membaca”, (beliau) bersabda : Lalu malaikat memegangku dan menyelimuti aku sehingga sampai kepadaku kepayahan, kemudian malaikat melepaskanku seraya berkata : “Bacalah”, aku (Rasululloh SAW) berkata : “Aku tidak bisa membaca”, maka malaikat memegangku dan menyelimuti aku untuk kedua kalinya sehingga sampai kepadaku kepayahan, kemudian malaikat melepaskan diriku seraya berkata : “Bacalah”, lalu aku menjawab : “Aku tidak bisa membaca”, lalu malaikat memegangku dan menyelimuti aku untuk yang ketiga kalinya kemudian dia melepaskan diriku seraya berkata : IQRO’ BISMIROBBIKAL-LADZIY KHOLAQ, KHOLAQOL INSAANA MIN ‘ALAQ, IQRO’ WAROBBUKAL AKROM”. (H.R. Al-Bukhari, No : 3, dan Muslim, No : 160).

Keadaan tidak bisa membaca dan menulis ini berlangsung selama Rasululloh SAW berdakwah di Makkah karena kondisi yang belum memungkinkan bagi beliau untuk belajar, namun setelah beliau hijrah ke Madinah maka beliu pun memiliki kesempatan untuk belajar membaca dan menulis dengan para sahabat beliau. Hal ini sebagai salah satu wujud teladan dari beliau kepada umat, karena setiap ada tawanan perang beliau selalu memperlakukan istimewa kepada para tawanan yang dapat membaca dan menulis untuk mengajar.

Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy Al-Malikiy di dalam kitab Tarikh Al-Hawaadits Wal Ahwaali An-Nabawiyah, hlm : 81, menjelaskan :

وفي هذه السنة (أي السنة الرابعة من الهجرة) أمر النبي صلى الله عليه وسلم زيد بن ثابت أن يتعلم له كتاب يهود ليكتب له، كتبه إليهم ويقرأ له كتبهم

Dan di dalam tahun ini (yaitu tahun ke-empat dari hijrah), Nabi SAW memerintahkan Zaid bin Tsabit agar belajar kitabnya orang-orang Yahudi untuk beliau agar dia menulisnya untuk beliau, maka dia menulisnya kepada mereka (Yahudi) dan dia (Zaid) membaca kitab-kitab mereka untuk beliau (Rasululloh SAW).

Dan pada tahun ke-enam dari hijrah, beliau mengadakan perjanjian hudaibiyah dengan kaum kuffar Makkah setelah sebelumnya mengadakan Bai’at dengan para sahabat beliau yang terkenal dengan Bai’atur-Ridwan.

عن الْبَرَاء بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْلَ الْحُدَيْبِيَةِ كَتَبَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بَيْنَهُمْ كِتَابًا، فَكَتَبَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ : لاَ تَكْتُبْ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، لَوْ كُنْتَ رَسُولاً لَمْ نُقَاتِلْكَ، فَقَالَ لِعَلِيٍّ : أمْحُهُ “رَسُول اللهِ”! فَقَالَ عَلِيٌّ : لاَ وَاللهِ لاَ أَمْحُوكَ أَبَدًا، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَمَحَاهُ بِيَدِهِ، فَكَتَبَ : هَذَا مَا قَضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ. أخرجه البخاري : (٢٦٩٨، و٢٦٩٩)، ومسلم (١٧٨٣).

Dari Al-Barro bin ‘Azib ra, berkata : Tatkala Rasululloh SAW mengadakan perdamaian pada penduduk Hudaibiyah, maka Ali bin Abu Thalib menulis di antara mereka dengan suatu tulisan, lalu dia menulis : “MUHAMMADUN RASUULULLOH”, maka orang-orang musyrik berkata : “Janganlah kamu menulis MUHAMMADUN ROSUULULLOH, kalau seandainya kamu seorang rasul maka kami tidak akan memerangimu, lalu beliau bersabda kepada Ali : “Hapuslah (tulisan) RASUULULLOHI”, lalu Ali menjawab : “Tidak, demi Alloh aku tidak akan menghapusmu selama-lamanya”, lalu Rasululloh SAW mengambil tulisan itu, lalu beliau menghapusnya dengan tangan beliau sendiri, seraya beliau menulis : “Ini adalah apa yang telah ditetapkan atasnya oleh Muhammad bin Abdulloh”. (H.R. Al-Bukhari, No : 2698, 2699, dan Muslim, No : 1783).

Dalam riwayat hadits ini telah jelas bahwa Rasululloh SAW dapat menghapus tulisan dengan benar dan tepat, dan kalau sekiranya beliau tidak bisa membaca dan menulis lalu mana mungkin beliau dapat memilih tulisan mana yang harus dihapus, dan dalam hadits ini juga sudah jelas dan gamblang bahwa Rasululloh SAW sendiri-lah yang menulis isi Perjanjian Hudaibiyah tersebut.

Dan di dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan bahwa Rasululloh SAW minta ditunjukkan tempatnya agar beliau dapat menghapus dengan benar, namun pada lanjutan hadits juga disebutkan bahwa yang menulis “BIN ABDULLOH” adalah tetap Rasululloh SAW sendiri. Dan berikut ini adalah syarah hadits Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawi, 12/109 :

قوله صلى الله عليه وسلم : ( أرني مكانها فأراه مكانها فمحاها وكتب ابن عبد الله )

قال القاضي عياض – رضي الله تعالى عنه – : احتج بهذا اللفظ بعض الناس على أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب ذلك بيده على ظاهر هذا اللفظ ، وقد ذكر البخاري نحوه من رواية إسرائيل عن أبي إسحاق ، وقال فيه : أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم الكتاب فكتب ، وزاد عنه في طريق آخر ، ولا يحسن أن يكتب فكتب ، قال أصحاب هذا المذهب : إن الله تعالى أجرى ذلك على يده إما بأن كتب ذلك القلم بيده وهو غير عالم بما يكتب ، أو أن الله تعالى علمه ذلك حينئذ حتى كتب ، وجعل هذا زيادة في معجزته ، فإنه كان أميا فكما علمه ما لم يعلم من العلم ، وجعله يقرأ ما لم يقرأ ، ويتلو ما لم يكن يتلو ، كذلك علمه أن يكتب ما لم يكن يكتب ، وخط ما لم يكن يخط بعد النبوة ، أو أجرى ذلك على يده ، قالوا : وهذا لا يقدح في وصفه بالأمية ، واحتجوا بآثار جاءت في هذا عن الشعبي وبعض السلف ، وأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يمت حتى كتب . قال القاضي : وإلى جواز هذا ذهب الباجي ، وحكاه عن السمناني وأبي ذر وغيره ، وذهب الأكثرون إلى منع هذا كله ، قالوا : وهذا الذي زعمه الذاهبون إلى القول الأول يبطله وصف الله تعالى إياه بالنبي الأمي صلى الله عليه وسلم ، وقوله تعالى : { وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك } وقوله صلى الله عليه وسلم : ” إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب ” ، قالوا : وقوله في هذا الحديث : ( كتب ) معناه : أمر بالكتابة ، كما يقال : رجم ماعزا ، وقطع السارق ، وجلد الشارب ، أي : أمر بذلك ، واحتجوا بالرواية الأخرى : ( فقال لعلي – رضي الله تعالى عنه – اكتب محمد بن عبد الله ) قال القاضي : وأجاب الأولون عن قوله تعالى إنه لم يتل ولم يخط ، أي من قبل تعليمه كما قال الله تعالى : { من قبله } فكما جاز أن يتلو جاز أن يكتب ، ولا يقدح هذا في كونه أميا إذ ليست المعجزة مجرد كونه أميا ، فإن المعجزة حاصلة بكونه صلى الله عليه وسلم كان أولا كذلك ، ثم جاء بالقرآن ، وبعلوم لا يعلمها الأميون ، قال القاضي : وهذا الذي قالوه ظاهر ، قال : وقوله في الرواية التي ذكرناها : ( ولا يحسن أن يكتب فكتب ) كالنص أنه كتب بنفسه ، قال : والعدول إلى غيره مجاز ، ولا ضرورة إليه ، قال : وقد طال كلام كل فرقة في هذه المسألة ، وشنعت كل فرقة على الأخرى في هذا . والله أعلم

Dan di dalam As-Siroh An-Nabawiyah, 3/184, Ibnu Hisyam Al-Anshori juga menambahkan :

فبينا رسول الله صلى الله عليه وسلم يكتب الكتاب هو وسهيل بن عمرو، إذ جاء أبو جندل بن سهيل بن عمرو يرسف في الحديد

Sewaktu Rasululloh SAW sedang menulis tulisan yaitu oleh beliau sendiri dan Suhail bin ‘Amr (dari pihak kaum Kuffar Makkah) tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr yang sedang terbelenggu di dalam rantai besi.

Abu Jandal adalah putranya Suhail bin ‘Amr yang mewakili kafir Makkah dalam perjanjian Hudaibiyah, Abu Jandal telah memeluk agama Islam, sehingga dia disiksa oleh ayahnya sendiri dengan di-ikat menggunakan rantai besi, dan pada perjanjian itu Abu Jandal bermaksud ingin bergabung ke dalam barisan Rasululloh SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *